Kamis, 21 Juli 2011

Apa Salahnya Menangis?


Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran.
Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.
Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka.
Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri di dalam kamarnya. Seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdo'a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus diembannya di dunia ini.
Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam.
Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata: “Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”. (QS. Al Maidah: 83). Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu. Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya.
Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat nanti, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’: 145)
Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. “Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah: 82).

Jadi apa salahnya menangis?.



Aduh Sayang Sekali, Kenapa Yah?


Sering kali bahkan tanpa kita sadar kata-kata "Aah..", "Aduh", "Sayang sekali", "Kenapa yah?", "Koq aku dapet masalah terus?", dan kalimat-kalimat lainnya yang terkesan "Keluhan" keluar dari bibir kita. Kata-kata ringan tapi punya makna belum bisa menerima apa setulus hati apa yang sedang dialaminya, entah itu ujian dalam bentuk musibah besar atau yang kecil sekalipun.

Satu ketika seorang sahabat bertutur, "Kenapa yah koq akhir-akhir ini berbagai musibah menimpaku? Ditambah lagi teman-teman mulai kurang perhatian padaku dan aduh aku jadi tidak dipercaya. Ada yang bilang kurang perhatianlah, nggak adillah, inilah itulah. Aku jadi bingung. Padahal aku sudah berusaha berbuat apa yang aku bisa. Aku jadi sedih. Kenapa semua berakhir seperti ini?"

Seseorang yang mulanya berniatan mulia, ketika mendapat tekanan-tekanan dari sekelilingnya bisa saja mengeluarkan penuturan seperti di atas. Di satu sisi dia ikhlas menerima apa yang sedang dialaminya, tapi disisi lain ada bisikan-bisikan yang membuatnya menyesali keadaan.

Keluh kesah yang terpancar lebih disebabkan karena mengikuti dorongan hawa nafsu, tidak mampu menahan rasa pedih atau emosi batin, kurang bersyukur terhadap nikmat yang begitu banyak dibandingkan bencana yang baru menimpa, atau karena kelemahan iman terhadap qadha dan qadar, sehingga tidak memahami hikmah dibalik bencana tersebut.

Kenapa sih mesti ada musibah? Musibah itu adalah sarana ujian atas prestasi keimanan seseorang. Rasulullah SAW bersabda, "Orang-orang yang paling besar mendapat ujiannya adalah para nabi, kemudian para syuhada, kemudian orang-orang setingkat dengannya." Disamping itu, musibah merupakan sarana untuk mengukur kebenaran iman. Alloh menurunkan musibah agar kita benar-benar bisa mengukur apakah benar kita beriman atau tidak? atau bisa jadi musibah diturunkan sebagai azab atas kemaksiatan dan kekufuran agar kita menjadi jera. Bukankah diturunkannya azab di dunia lebih baik dari pada di akhirat kelak? Agar kita lebih dulu menyadari kesalahan dan dosa-dosa kita. Subhanalloh betapa cintanya Alloh pada orang-orang yang mendapat musibah dan berhasil memupuk kesabaran atas dirinya. Alloh berfirman dalam surat Ar-Rum:41, "Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Alloh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar."

Kunci utama dari pemecahan masalah ini adalah sabar, yaitu menahan diri dari keluh kesah, amarah, apalagi dari harapan mendapat belas kasihan dari orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Sabar itu tatkala menghadapi ujian musibah yang pertama." Karena pada saat-saat itulah Alloh menguji iman seseorang, apakah dia berhasil melawannya dengan mengembalikan segala urusannya pada Alloh dan memendam emosinya dalam-dalam, atau malah semakin larut dalam duka yang berkepanjangan hingga selalu merasa gelisah.

Apakah bersabar dengan memendam emosi dapat menyelesaikan masalah? Tentu saja belum. Setidaknya dengan memendam emosi, ada perasaan tenang di hati kita. Ketika perasaan tentram itu datang, akan ringanlah bagi kita untuk berpikir jernih. Ketika ujian kesabaran telah kita lewati, selanjutnya kita harus mencek dan ricek kembali apa hakikat dari musibah-musibah yang telah kita alami.

Mari kita telaah setiap permasalahan / musibah yang sedang kita hadapi, agar kita terbebas dari penyakit keluh kesah, dengan:
1. Menjauhi semua penyebab timbulnya penyakit keluh kesah.
2. Mempelajari akibatnya
3. Memahami makna sabar dan seluruh manfaatnya
4. Meyakini bahwa cobaan adalah takdir dari Alloh yang terbaik bagi kita, dan kelak akan terbukti hikmahnya.
5. Menahan emosi semaksimal mungkin sehingga tidak menimbulkan reaksi negatif terhadap tindakan fisik.
6. Jika masih ada rasa kesal, segera beranjak dari tempat duduk, ambil air wudhu dan baca istighfar sebanyak 3 kali.
7. Berdoa, "Ya Alloh, selamatkanlah aku dalam musibahku ini, dan semoga engkau menggantinya dengan sesatu yang lebih baik daripada ini."
8. Selalu bersyukur akan nikmat yang diterima.


Bagaimanapun musibah menuntun kita kejalan yang lebih baik dan lewat musibahlah Alloh mengabulkan do'a yang sering kita panjatkan, "Ya Alloh, tuntunlah kami ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhoi." Agar kita tergolong orang-orang yang beruntung dikehidupan mendatang. Semoga kita bisa mengganti kata Aduh, Sayang Sekali, Kenapa Yah? dengan kata-kata yang lebih punya makna seperti "Masya Alloh", "Astaghfirullah", dan kata-kata lain yang lebih bisa menentramkan hati kita. Wallahu a'lam bishawab. (Qudwah, bahan bacaan: Penyakit Hati, Uwes Al-Qorni)

Senin, 18 Juli 2011

Kisah nyata : Inikah Rencana-MU .....

oleh Aini Jannah pada 28 Desember 2010 jam 16:25

Kisah ini adalah kisah nyata dari seorang akhwat bernama Ine. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini.
-----

Akhwat itu termenung, menatap surat didepannya. Selama berteman dan menjadi aktivis di masjid kampus tak pernah sekalipun ikhwan ini berkirim surat, dia mengingat-ingat. Mereka berteman biasa saja, sama-sama mencari ilmu, sama-sama berbagi ilmu, sama-sama berdakwah. Mereka memang akrab sama halnya dengan yang lain, dekat, penuh rasa persaudaraan meski tetap menjaga jarak karena walau bagaimanapun mereka adalah lawan jenis. Beberapa ikhwan/akhwat pernah ada yang menduga bahwa diantara mereka ada ’apa-apanya’, mungkin karena kedekatan atau menilai ada kecocokan (?) entah dalam hal apa… Mungkin iya, pernah muncul rasa simpati di hati masing-masing, tapi semuanya itu disimpan jauh di dasar hati. Masing-masing saling menyembunyikan dengan rapat.

Sekali lagi perempuan itu membaca surat digenggamannya. Isinya berupa curhat dari seorang ikhwan yang telah cukup lama dikenalnya itu.  

“Kenapa surat ini ditujukan kepada saya..?” pikir akhwat tersebut.
“Apa karena saya dianggapnya sudah sangat dekat ?” batinnya lagi. “Ya, mungkin begitu..”

Isi surat tersebut :
Saya menyukai seorang akhwat (A, demikian awal curhatan pada surat tersebut. Tapi saya belum ada keberanian untuk mengungkap, disamping saya belum siap untuk menikah. Saya hanya memendam perasaan itu sampai tiba waktunya nanti.

Di tengah penantian dan persiapan itu ,tiba-tiba ada seorang akhwat lain (B) yang menawarkan dirinya untuk dinikahi. (Ikhwan tersebut menyebutkan nama akhwat yang menawarkan diri itu, ternyata akhwat tersebut adalah teman satu kampus yang sama-sama aktivis juga, tentu saja dikenalnya dengan baik. Tapi pernyataan penawaran diri itu, tak urung membuat perempuan pembaca surat itu sedikit kaget. Tak ada seorangpun di antara ikhwan akhwat/teman-temannya yang akan menduga, ia yakin itu. Dan ia berjanji akan menutupi hal ini rapat-rapat).

Hm… saya jadi bingung, harus bersikap bagaimana terhadap akhwat yang menawarkan diri tersebut. Saya tidak mau menyinggung dirinya atau merendahkan harga dirinya. Saya harus sangat hati-hati dalam menjawab dan menentukan pilhan. 

Ikhwan itu melanjutkan curhatannya..

Lalu saya mencoba untuk beristikharah, memohon petunjuk kepada Yang Maha Tahu.
Setelah ke sekian kalinya shalat istikharah, Allah memberi petunjuk melalui mimpi. Di dalam mimpi itu (nampaknya) Allah menunjukkan seseorang yang akan menjadi istri saya adalah akhwat (C )..! Dia teman kuliah saya di kampus I , (Akhwat ini berbeda kampus dengan perempuan yang membaca surat ini, tapi dia kenal juga karena suka sama-sama ikut kajian ).

Saya harus bagaimana ukhti ? Saya tidak menduga akan seperti ini ? Saya tidak pernah sekalipun memikirkan akhwat (C) ini, kami hanya berteman biasa saja, ujar ikhwan tersebut kebingungan dalam suratnya. Perempuan itu sejenak membayangkan sosok akhwat C; tinggi, baik, shalehah. Beberapa kali dia pernah mabit bareng. Kelihatannya cocok juga, pikirnya sambil tersenyum sendiri.

Tapi setelah saya pertimbangkan baik buruknya, manfaat dan mudharatnya, barangkali saya akan memutuskan sesuai dengan petunjuk Allah. Meski berat bagi saya karena mungkin harus ‘menyakiti’ akhwat B dan mungkin juga ‘menyakiti’ hati saya sendiri dengan mengabaikan rencana dan rasa suka kepada akhwat A. Allah lebih mengetahui  yang terbaik untuk saya. Saya mohon doanya ukhti ,agar saya ikhlas dalam menetapi hal ini. Karena saya belum sepenuhnya yakin dengan mimpi tersebut.

Hmm… suatu keputusan yang bijak dan tepat, gumam akhwat penerima surat sambil tersenyum lagi. Lalu surat itu dilipat kembali dengan rapi.

Waktu berlalu, aktivitas berjalan sebagaimana biasanya. Si ikhwan telah lulus, sementara yang  akhwat masih penelitian. Komunikasi semakin jarang diantara mereka. Sampai suatu ketika ada seorang ikhwan lain yang melamar akhwat tersebut, dan mereka memutuskan untuk segera menikah. Undangan pun disebar termasuk kepada si ikhwan sahabatnya itu.

Menjelang pernikahan, datanglah surat ke dua dari si ikhwan. Dia minta maaf tidak bisa menghadiri pernikahan si akhwat karena suatu hal. Yang membuat si akhwat tertegun lagi (sama halnya dengan waktu membaca surat pertama dulu) adalah ada kata-kata "terimakasih". Terimakasih karena dia telah memutuskan untuk menikah dengan ikhwan lain sehingga si ikhwan sahabatnya itu menjadi lebih tenang dan kuat dalam tekadnya untuk pergi jauh ke pulau di seberang sana.

Belakangan, akhwat tersebut baru menyadari …

Duh, Rabbi… betapa tidak pekanya hati ini terhadap sinyal-sinyal itu.. ataukah ini kehendak-Mu ? Dan, betapa rapatnya si ikhwan menyimpan rasa, hingga tidak diketahui sedikitpun..

Akhwat tersebut baru sadar dan tahu bahwa yang dimaksud akhwat A dalam surat terdahulu itu adalah dirinya..! Betapa polos pikiran dan perasaannya saat itu, hanya ada keheranan sesaat tapi kemudian ditepisnya, serta tidak ada keinginan untuk bertanya, siapakah akhwat A yang dimaksud!? Surat itu pun samasekali tidak dibalasnya, hanya dibaca saja untuk diketahui apa isinya. Tidak ada dorongan untuk bertanya, tidak ada dorongan untuk membahas. Dibiarkan saja curhatan itu hanya sekedar curahan. Karena ikhwan itupun tidak pernah menyinggung lagi tentang isi surat.

Andai  ikhwan itu tahu bahwa dulu di hatinya ada rasa yang sama?

Ah, dia tidak boleh berandai-andai. Apalagi sekarang dia telah bersiap untuk menikah dengan jodoh yang telah Allah tetapkan untuk dirinya. Insya Allah inilah yang terbaik. Dia siap meski belum mengenal secara dekat calon suaminya itu. Dia pasrahkan semua kepada yang Maha Mengatur.

Dia membayangkan, alangkah berat bagi sahabatnya (si ikhwan itu) untuk memutuskan sesuatu yang akan menentukan gerak langkahnya di kemudian hari. Ada pertimbangan rasa, ada pengorbanan hati, ada tuntutan keikhlasan dan keyakinan..

Selamat jalan, sahabat. Pergilah dengan tekad yang bulat dan tidak ada keraguan lagi sedikitpun. Aku mengikhlaskanmu.. semoga engkaupun mengikhlaskanku, doanya dalam hati sendu.

Kurang lebih satu tahun setelah itu, si akhwat mendengar kabar bahwa si ikhwan sahabatnya telah menikah dengan akhwat C, sesuai dengan petunjuk mimpinya dulu. Alhamdulillah.

Barakallahu laka wabaraka ‘alaika wa jama’a baina kuma fii khaiir..

Mengikuti apa yang Allah sarankan adalah jauh lebih baik dibanding mengikuti keinginan hati sendiri, meski berat pada mulanya..

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah [2] : 216)

Wallahu'alam





Rabu, 13 Juli 2011

Harry Potter dan Muhammad al Fatih

Antrian panjang muda-mudi pada loket-loket penjualan tiket hari pertama pemutaran film "The Lord of the Rings" atau pada peluncuran buku "Harry Potter" adalah pemandangan keseharian di negeri-negeri Barat. Fenomena yang sama terjadi juga di negeri kita, seperti yang baru-baru ini dimuat di berita photo detik.com. Mereka yang sebagian besar adalah muda-mudi, termasuk yang "berjilbab", ada dalam antrian panjang untuk membeli buku Harry Potter Jilid V yang harganya Rp. 140.000. Uang sejumlah itu bukanlah sedikit untuk masyarakat kita umumnya. Masih ingatkah kita kisah seorang anak SD yang mencoba mengakhiri hidupnya gara-gara malu karena tidak bisa membayar uang untuk kegiatan sekolah yang besarnya hanya Rp. 2500.

Harry Potter ... hampir semua remaja, bahkan dewasa, begitu mengenalnya. Bukunya laris manis bak kacang goreng. Film-film-nya sangat ditunggu-tunggu. Asesorisnya menjadi bahan koleksi para penggemarnya. Mereka hafal secara detil petualangan tokoh yang bernama Harry Potter ini. Bahkan pernah dilaporkan di majalah Time, kacamata model Harry Poter, sangat digandrungi oleh anak-anak dan remaja di Inggris, dan saya yakin juga di negara-negara lain, termasuk negara kita. Believe it or not, bahkan ada sebuah keluarga yang memberi nama anaknya yang baru lahir Harry Potter .... karena begitu kagumnya terhadap tokoh yang satu ini. Sedikit, bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada, remaja kita yang tidak kenal dengan nama Harry Potter. Dan yang sedikit ini umumnya dikategorikan sebagai kuno, tidak gaul, dan ketinggalan zaman.

"...saya berkewajiban menemani dia membeli buku",ujar seorang Profesor yang juga ketua salah satu komisi di DPR. Meski hanya fiksi, penulis buku Harry Potter sering menyisipkan falsafah hidup yang dapat membuat anak-anak lebih bijak, demikian alasan sang Profesor seperti yang ditulis di detikhot.com.

Kalau alasannya untuk mencari falsafah hidup, tidak cukupkah Islam sebagai minhaaj al-hayaah (pedoman hidup) memberikan itu semua? Bila kemudian alasannya agar bisa menjadi manusia yang lebih bijak dan berakhlak, lantas apa arti hadist Rasulullah SAW "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang manusia". Tidak cukupkah itu semua, sehingga kita mesti mengambilnya dari sumber-sumber lain, yang belum tentu sejalan dengan tuntunan Islam.

Muhammad Al-Fatih .... siapakah dia? Jika pertanyaan ini diajukan ke 1000 remaja muslim, mungkin hanya 1 diantaranya yang tahu jawabannya. Dialah pemuda muslim yang dalam usia 23 tahun berhasil memimpin penaklukan konstantinopel (sekarang bernama Istambul), yang merupakan pusat peradaban barat di abad pertengahan [1]. Sang pemuda ini berhasil mengambil alih konstantinopel dari tangan kerajaan Bizantium yang merupakan kelanjutan dari Roman Empire dan telah menguasai Konstantinopel lebih dari 10 abad [2].

Remaja Muslim sekarang lebih kenal dengan tokoh Harry Potter, ketimbang tokoh Muhammad Al-Fatih. Mahasiswa-mahasiswa muslim di negeri ini lebih mengenal dan mengagumi sosok Einstein, Louis Pasteur dan Aristoteles ketimbang sosok Khwarizmi si-penemu sistem aljabar dalam dunia matematika [2,3], Ibn Sina (Avicenna) yang telah menulis buku "The Canon" yang telah menjadi buku rujukan utama di dunia kedokteran Eropa selama lebih dari 5 abad dan Ibu Rushd (Averroes) yang fikiran-fikirannya telah mempengaruhi filsuf-filsuf terkenal Eropa seperti Roger Bacon [2], padahal ilmuawan-ilmuawan muslim ini sangat dikenal di dunia barat.

Begitulah nasib muslim di negeri ini yang terkadang lebih 'kebarat-baratan' daripada orang-orang barat sendiri. Lihatlah buku-buku yang terpajang di rak dinding ruang tamu kita, berapa banyak dari buku-buku tersebut yang merupakan kitab tafsir, fiqh sunah dan buku-buku kisah para sahabat, lalu bandingkan dengan koleksi buku-buku semacam Harry Potter ... Bila tangan kita dengan mudahnya meraih lembaran-lembaran 50 atau 100 ribuan di dompet untuk membeli buku semacam Harry Potter, buku-buku komputer terbaru, buku-buku manajemen dan psikologi modern, sementara hanya lembaran uang ribuan atau bahkan koin recehan yang keluar dari saku kita guna membeli buku-buku Islam, menyumbang kegiatan keislaman, dan mengisi kotak amal di masjid-masjid. Waktu yang kita gunakan untuk kegiatan-kegiatan keislaman pun biasanya waktu-waktu sisa, saat kita sudah letih dan tak mampu lagi berfikir jernih. Terlalu naif rasanya bila kemudian kita masih bertanya mengapa umat (Islam) ini menjadi umat yang terbelakang, umat sisa, umat yang menjadi bulan-bulanan umat-umat yang lain.

Negeri batu cadas, Swedia, 11 Desember 2004