
Buka juga yuks....
Selasa, 08 November 2011
"Nenek Pemungut Daun"
Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.
Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.
Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya."
Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa.
Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.
Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.
"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya."
Tersenyumlah di Jalan Dakwah Ini!
Nada dering Handphoneku berbunyi. Sebuah SMS dari seorang sahabat.
“Saat senyuman tak terbalas, maka Allah telah menghitung manis senyummu. Saat sapamu tidak terjawab, Allah takkan lupa atas apa yang kau katakan. Saat ajakanmu dalam kebaikan tidak terpenuhi,
lelahmu akan menjadi hiasan di tamanNya. Saat engkau menangis atas perihnya perjuanganmu, Allah tak lalai menghitung setiap tetes air matamu. Saat mereka meninggalkanmu, Allah akan selalu ada bersamamu! Jangan hanya mengharapkan perubahan dalam dakwah ini, Akh! Fikirkanlah tentang KONTRIBUSI yang dapat kita berikan. Semoga Allah senantiasa mencintaimu.”
Subhanallah. Hatiku bergetar membacanya. Memang, jalan dakwah adalah panjang, berliku, menanjak, dan penuh onak duri. Seperti itulah dakwah. Namun ketika kita ikhlas menjalaninya, dakwah itu akan menjadi indah. Meminjam ucapan Ustadz Rahmat Abdullah, “Seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan menarik seluruh potensi yang ada pada dirimu. Mulai dari tidurmu, sadarmu, mimpimu, gerakmu, jalanmu, bahkan diammu untuknya.”
Meniti langkah di jalan dakwah tidaklah mudah. Tidak juga sulit. Tidak mudah, karena jalan dakwah ini hanya sedikit orang yang memilihnya. Sehingga kita haruslah benar-benar ikhlas mengharapkan pertolongan serta ridha Allah dalam meniti jalan dakwah ini.
Sampaikanlah walau satu ayat. Perintah dakwah ini tentu sudah sangat sering kita dengar. Tentu saja, dakwah adalah hal yang sangat penting dalam regenerasi para muslim kita ini. Bisa dibayangkan kalau saja para sahabat enggan berdakwah setelah Rasulullah wafat, entah bagaimana kondisi kita saat ini. Nikmat islam belum tentu bisa kita rasakan seperti hembusan yang kita dapatkan ini.
Tersenyumlah menghadapi jalan dakwah ini, Saudaraku!
Ringankan bebanmu dengan senyuman. Tatap optimis masa depan dengan senyuman. Jemputlah kebahagiaan dengan senyuman. Tinggalkan kesedihan dengan senyuman. Sambut saudaramu dengan senyuman. Buat mereka bahagia dengan senyumanmu.
“Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu perbuatan baik walaupun hanya menyambut saudaramu dengan SENYUMAN” (HR Muslim)
Ketika kehidupan memberi kita seribu alasan untuk menangis, tunjukkan bahwa kita memiliki sejuta alasan untuk tersenyum. Nikmati setiap detik waktu dan akhiri kelelahan di jalan dakwah ini dengan kata keikhlasan. Indahnya hidup bukanlah dari seberapa banyak orang mengenal kita. Namun seberapa bahagia orang-orang telah mengenal kita!
Buatlah saudara kita tersenyum telah mengenal kita. Ketika mereka tengah dalam risau gundah, senyummu-lah yang mengangkat mereka kembali dari keterpurukan. Ketika rekan kita di jalan panjang dakwah ini mengalami letih, senyummu-lah yang mengobatinya. Ketika rekan dakwah kita tengah goyah, senyummu-lah yang menguatkan. Betapa indah senyum itu.
Itulah mengapa Allah SWT memerintahkan kita untuk saling berwasiat dalam kebaikan dan saling berwasiat dalam kesabaran. Mengapa sabar? Karena istiqamah dalam jalan dakwah bagaikan memegang bara api. Menyakitkan dan sangat berat. Perlu penguat sesama kader dakwah untuk tetap istiqamah di jalan dakwah ini.
Tersenyumlah di jalan dakwah ini! :)
(Fathan)
Senin, 31 Oktober 2011
Sisi Hitam Facebook, `Makan Nggak Makan Asal Facebook Yow!`
Ngeliat fenomena yang ada sekarang ni, banyak banget manusia khususnya para remaja yang bakal betah banget kalo kudu berintim-ria dengan facebook. Kalo nggak ketemu sehari ajah buat update status ato ngecek status orang laen malah, heee..., beh berasa bener- bener ada yang kurang.
Nggak dipungkiri emang, kalo situs jejaring sosial bikinan Mark Zuckerberg ini, udah bener- bener jadi bagian idup lebih dari 350 juta manusia di seluruh dunia. En dari angka segitu banyak, para remaja bertengger di urutan pertama. Asyik emang kalo pake facebook. Kita bisa gaul, en komunikasi, ngobrol sambil ngelucu bareng sohib, ampe juga ada yang pada jualan.
Tapi sayang pren, faktanya nich, banyak dikalangan kamu- kamu yang masih muda usia, yang udah kena virus kecanduan ama facebook. Ampe seharian kali bakal betah ngendon depan laptop ato mantengin hape mulu` cuman buat gaul sama si lovely facebookmu. Ya nggak?. ibarat kata nich, lupa makan nggak papa, tapi update status kudu tetep eksis dunk.
Biasanya para jamaah facebookiyah ini nggak ada abiesnya bakal ada aja yg diomongin. Nggak peduli itu kenalan baru ato temen lama, porum ngerumpi abies, bakal di geber terus di sini. Trus, maniak-online juga salah dua yang kejadian gara- gara facebook.
Heran yach, jadi penasaran nich, pada pengen nanya, kalo ampe seharian online gituh apa kamu nggak bosen pren? apa nggak pegel tuh badan bakalannya?
Waspadalah, waspadalah pren, itu tandanya kamu sudah bener- bener kecanduan. Facebook emang mengasikkan, tapi kalo sampe kita absen makan, ato aktifitas penting laen gara-gara facebook, itu mah kebangetan. Bahwa facebook bisa juga ada manfaatnya memang iya, tapi trus jangan lupa, pake facebook tapi jangan pake acara nyiksa diri ya pren.
Nyiksa diri? kok bisa?
He emm lah, coba ajah kamu itung bentaran, tentang waktu kamu yang di korbanin buat mangkal di facebook. Contoh niy, kalo kamu betah nongkrong di facebook minim 3 jam, berarti sebulan waktu yang habis untuk berkhalwat dengan situs jejaring sosial ini adalah 90 jam. Tuh dari 30 hari dikali 3 jam. Eits, Tuh masih berat kotor teman, soalnya belum termasuk ma pulsa, uang en energi yang terbuang percuma. Kenapa percuma? ok emang nggak 100% yang pada pake facebook nggak ada manfaatnya, tapi mayoritas pemakenya adalah cuman buat hiburan, penumpahan keluh kesah, maen- maen saat rileks ato ajang numpang eksis.
Pren, Kalo diitung- itung, waktu 3 jam itu lumayan banget loh bisa buat baca buku, istirahat, belajar, ato hal yang bermanfaat laen deh. Jangan sampe kita nyesel seumur-umur gara- gara kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah say good bye ama dunia ini. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” (QS ar-Rûm [30]: 57).
So, jangan ampe hidup kita hanya diisi dengan kegiatan yang nggak ada manfaatnya. Waktu luang emang kadang banyak melenakan kita, trutama biar ampe lupa ama yang namanya akherat.
Mangkanya yuk, mule sekarang jaoh- jaoh ajah dari aktivitas yang ngerugiin kita. Trus aktif di facebook gimana? manfaatin ajah seperlunya aja, terutama buat dakwah. Jangan berlebihan dan apalagi ampe tahap kecanduan facebook buat hal-hal yang nggak ada manfaat, lebih- lebih buat maksiat. Pren, baek- baek yah memperlakukan sohib kamu semua yang atu tuh, soalnya kalo dia udah keburu pergi nggak bakal ada acara balik lagih... siapa dia? dia adalah waktu.
(Nayma/Voa-islam.com)
Langganan:
Postingan (Atom)