Minggu, 05 Februari 2012

Rezeki Allah SWT





Nabi SAW mengundang para sahabat untuk menghadiri walimatul ursy yang diadakan beliau dengan seorang wanita yang menjadi istrinya. Para sahabat hadir dan begitu mereka menyaksikan tentang rupa makanan yang dijamukan oleh Rasulullah SAW, mereka tak tahan untuk tidak memperbincangkannya.

" Darimana Rasulullah SAW akan mampu memenuhi kebutuhan hidup dari para istri-istrinya ? coba lihat, jamuan walimahnya saja cuma seperti itu ?"

Rasulullah SAW diam saja. Beliau bukan tidak tahu apa yang diperbincangkan oleh para sahabat saat itu. Usai menunaikan sholat, Rasulullah SAW menceritakan suatu kisah kepada para sahabat yang hadir.

" Aku ingin menceritakan suatu kisah perihal rejeki kepada kalian. Kisah ini diceritakan oleh malaikat Jibril kepadaku. Bolehkah aku meneruskan kisah ini kepada kalian ?"

Rasulullah SAW kemudian memulai kisahnya.
" Suatu ketika Nabi sulaiman a.s melakukan sholat ditepi pantai. USai sholat, beliau melihat ada seekor semut sedang berjalan di atas air sambil membawa daun hijau. Beliau yang mengerti bahasa binatang mendengar si semut memanggil-manggil si katak. Tak berapa lama kemudian, lalu seekor katak muncul. Ada apa gerangan dengan si katak itu sehingga si semut terus-menerus memanggilnya tadi ? Nabi Sulaiman menyaksikan bahwa begitu si katak muncul, katak itu langsung saja menggendong sang semut masuk ke dalam air menuju dasar laut.

Ada apa di dasar laut ? Semut itu menceritakan kepada Nabi Sulaiman a.s bahwa di sana ada berdiam seekor ulat. Sang ulat menggantungkan rejekinya kepada si semut.
" Sehari dua kali aku diantar oleh malaikat ke dasar laut untuk memberi makanan kepada ulat itu ". Demikian si semut memberikan penjelasannya kepada Nabi Sulaiman a.s. " Siapakah malaikat itu, hai semut ?" tanya Nabi Sulaiman kepada si semut dengan penuh selidik. " Si katak sendiri. MAlaikat menjelmakan dirinya menjadi katak yang kemudian mengantarkan aku menuju dasar laut ".
Setiap selesai menerima kiriman daun hijau dan melahapnya, si ulat tak lupa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, " Maha Besar Allah yang men-takdir-kan aku hidup di dasar laut ". Dalam mengakhiri ceritanya itu, Rasulullah SAW memberi pandangannya.

" Jika ulat saja yang hidupnya di dasar laut, Allah SWT masih tetap memberinya makanan, maka apakah Allah SWT tega menelantarkan umat Muhammad soal rejeki dan rakhmatnya ?"

Bhintoro shati aji

Senin, 23 Januari 2012

ADAB


 
Pada zaman salafus sholeh, ada seseorang yang selalu mengikuti pengajian Imam Abu Hanifah. Pada suatu saat, setelah pulang mukanya kelihatan kusut dan kecewa. Ditanya oleh ayahnya, kenapa mukanya begitu, yaitu muka kecewa, apakah Imam Abu Hanifah itu sakit? kata orang itu bagaimana tidak kecewa, biasanya sekali pertemuan Imam Abu Hanifah membahas paling tidak 70 masalah Fiqh, tapi hari ini hanya membahas 1 Adab, kecewa lah,kata orang itu.

Kemudian ayahnya menjawab : Wallahi ya bunayya (Demi Allah wahai anakku), La adabun wahidun 'allamtahu min Abi Hanifah ahabbu ilayya min anta ta'allama minhu sab'iina masalatan minal fiqh (sungguh satu pelajaran adab yang engkau pelajari dari Imam Abu Hanifah, lebih aku cintai dari pada engkau mempelajari 70 masalah fiqh ),

Ikhwah FiLLah, bagi ayahnya yang surprise itu adalah karena dia balajar tentang Adab. Karena jika ahli Fiqh, tetapi tidak mempunyai adab, maka itu berbahaya.

Ikhwah FiLLah, Manusia sosial merupakan keniscayaan. Ibnu Khaldun dalam muqoddimahnya mengatakan bahwa manusia dilahirkan dalam sebuah masyarakat dan tidak dapat hidup kecuali dalam sebuah masyarakat. Hidup bersama ini jelas akan memunculkan interaksi-interaksi dan hubungan 2 antar individu serta berbagai perselisihan yang mucul sebagai dampak interaksi tersebut. Sehingga bagaimana adab ini bisa meminimalkan dampak2 tersebut dan menjadikan hubungan antar manusia menjadi sangat indah.

Tampaknya masalah adab ini kurang menarik dan membosankan. Tetapi adab ini sangat penting dalam kehidupan berjama'ah dan sosial. mungkin masalah adab ini saat ini perlu kita sama2 pelajari dan amalkan.
Adab istri terhadap suami, adab anak kepada orang tua. Adab memberikan nasehat, adab mendengar, adab berbicara, bertetangga, adab murid terhadap guru, adab sesama muslim, ada bertamu, adab menerima tamu, adab di jalan, adab berbeda pendapat, dan lain-lain. Imam Al Bukhari sendiri menulis buku khusus tentang adab, yaitu adabul mufrod, adab bagi seorang muslim dan bab pertama adalah adab terhadap orang tua. Dalam sebuah jama'ah ada adab ta'amul fil jama'ah, antara lain adalah adab kepada murobbi, adab sesama ikhwah, dan lain sebagainya.

Semoga Allah SWT memberikan taufiq dan hidayah kepada kita untuk bisa menjaga dan mengamalkan adab2 islam ini sehingga hubungan antara sesama muslim, hubungan suami istri, hubungan keluarga, hubungan sesama manusia hubungan sesama ikhwah, bisa baik dan indah. Semoga Allah SWT memberikan kita kebesaran hati, kelapangan jiwa untuk tetap dalam berjama'ah dan masyarakat walaupun itu pahit. Karena ketika kita bergaul dengan manusia, maka kita juga bergaul dengan kekurangan mereka dan aib mereka. Karena tidak ada manusia yang sempurna.

Fudhail bin Iyadh mengatakan, siapa yang ingin bersaudara yang tidak memiliki aib tanpa kekurangan, ia takkan memiliki saudara. Abu Darda r.a mengatakan"Kata-kata keras dan kasar dari seorang saudara itu lebih baik daripada engkau kehilangan seorang saudara". Rasulullah SAW bersabda, "Seorang muslim yang berbaur dengan manusia lalu ia bersabar atas perilaku buruk mereka, lebih baik dari pada orang yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar atas perilaku buruk mereka"(HR Ahmad dan Turmudzi).

Memang ini berat. Sungguh ini tidak mudah. Tapi, semoga usaha kita di nilai mujahadah dalam rangka tetap bersama jama'ah. Wallahu a'lam.